Saturday, March 28, 2009

Payung dan Canopy

Aku selalu terjatuh di lubang yang sama berkali-kali. Aku tahu betul konsekuensi menjalani hubungan segi-empat seperti ini, tapi aku selalu saja emosi dan sakit hati.

Sahabatku menganalogikan posisiku seperti sebuah payung. Kalau hujan turun, dicari dan dipegang erat seolah menjadi aset paling berharga pada saat itu. Kalau ngga hujan ya disimpan aja di lemari atau bahkan ditaruh di gudang sampai berdebu.

"Terus aku harus gimana?" tanyaku. "Ya, kalau lu memang puas menjadi payung ya dijalani aja. Konsekuensinya kan udah tau. Tapi kalau mau berevolusi menjadi canopy sebetulnya juga bisa. Itu semua kan pilihan." jawabnya.

Meskipun mungkin menggelikan menganalogikan hubungan cinta dengan payung dan canopy, aku jadi berpikir juga. Apa benar aku mau seterusnya menjadi payung? Apa sih yang aku inginkan?

Aku ingin berevolusi menjadi canopy yang indah dan kuat untuk pasanganku. Aku ingin selalu ada untuk menaunginya, melindunginya dari sinar terik matahari maupun dari hujan. Aku ingin dia bangga terhadapku dan keberadaanku bukanlah aib baginya.

Aku harus bisa menerima untuk sekarang aku memang masih belum mampu melewati lubang itu, mungkin aku harus mencari jalan lain dulu untuk melewatinya. Mungkin nanti kalau aku sudah belajar lebih banyak, aku akan mampu melewatinya tanpa jalan memutar. Tapi aku perlu bangga karena aku sudah berusaha semaksimal mungkin, tanpa penyesalan.

Aku sudah memilih... aku ingin berubah... dari sebuah payung menjadi sebuah canopy yang indah dan kuat.

No comments:

Post a Comment