Tuesday, March 31, 2009

Merelakan

Semalam aku sampe di Jakarta. Ada rasa exited untuk keluar dari rutinitas sehari-hari dan menghadapi hal-hal baru di sini. Tapi juga ada rasa malas menghadapi keributan dan kemacetan kota besar.

Kelanjutan dari cerita sebelumnya. Sebelum bertemu rasanya hatiku gelisah. Egoku juga masih terus mengutik-utik harga diriku. Tapi aku juga terus mengulang doaku semalam.

Sewaktu ketemu, aku coba jaga jarak. Tapi tiba-tiba dia mengecup pipiku dan bilang "aku masih sayang kamu, selalu sayang." Duuh, aku memang lemah. Langsung rasanya aku lumer (btw, ini kata favoritnya jagungwati). Suasananya juga langsung menghangat. Tapi kali ini aku bisa mengingatkan diriku supaya si ego tidak ikut campur. Lalu kita keluar makan, dan saat kita di parkiran, dia memelukku. Aku berbisik, "I still love you" dan dia menjawab, "Aku tau".

Aku selalu mencoba membuktikan cintaku, dan bertanya-tanya apakah dia menyayangiku. Semakin lama aku sadar dan belajar kalau kita mencintai seseorang, mengetahui orang itu membalas cinta kita atau ngga adalah hanya untuk memuaskan ego kita, itu adalah suatu hal yang di luar kendali kita. Yang terpenting adalah kita tau bahwa diri kita sendiri benar-benar mencintai dengan tulus. There's nothing to prove, only to give.

Dari pengalaman terdahulu, aku tau dalam keadaan saling menyayangi ini sebaiknya aku merelakannya. Ngga pernah gampang memang, dan egoku meraung-raung untuk ngga melepaskannya. Untuk sekarang, inilah yang terbaik untuk aku, semoga untuk dia juga. Aku sekali lagi mengucap syukur pada Tuhan yang memimpin aku, menenangkan hatiku, dan memberikan kesempatan lagi untuk merelakan.

Sunday, March 29, 2009

Is love happiness?

Love doesn't bring and never has brought happiness. On the contrary, it's a constant state of anxiety, a battlefield; it's sleepless nights, asking ourselves all the time if we're doing the right thing. Real love is composed of ectasy and agony.
- From "The Witch of Portobello" by Paulo Coelho

Tak bisa menghindar

Aku merasa kangen sekali dengan dia.

Semalam asmaku kambuh, mana obat semprotku ngga ada. Tidur pun jadi gelisah. Aku ingat dulu waktu asmaku kambuh begini dia yang kebingungan. Punggungku digosok. Lalu leher dan dadaku dioles vicks. Dan dia pun ga bisa tidur kalau tidurku gelisah. Aku merasa disayang. Tapi itu dulu...

Tadi pagi sebelum jam 6 aku sudah bangun. Bikin teh, lalu duduk di teras membaca "the witch of portobello". Lalu menikmati sunrise. Ngobrol bentar sama Petto. Aku cerita perasaanku dan aku masih merasa agak bimbang, apakah aku harus ketemu lagi atau ngga? Sesudah sarapan, aku tidur-tiduran, sempat terbangun-bangun dengar suara Petto bilang "tendang jekiy yuk".

Waktu aku fully awake, tiba-tiba muncul suatu pemikiran di otak hiperaktifku. Mungkin memang sudah jalannya aku harus masuk ke lubang itu, bukannya karena aku ngga mampu meloncatinya. Karena itu seberapa sering pun aku restart, pasti hasilnya sama. Mungkin sekarang sudah saatnya aku mulai keluar dari lubang itu dan melanjutkan perjalananku. Entah kenapa, pemikiran itu membuatku lebih tenang, dan aku pun berpikir untuk mencoba tidak menghubunginya lagi, meskipun aku kangen sekali. Bahkan aku coba block nomornya.

Tapi ternyata ceritanya lain. Dia menghubungi aku lewat sms (dasar software blacklist tak berguna), lalu aku telepon. Dari hasil pembicaraan kita, aku sudah tau keputusan dia. Aku sampai bingung apakah aku seharusnya sedih atau lega. Aku sempat emosi juga sesudah itu.

Tapi dalam perjalanan ke kantor, aku coba lebih tenang dan berdoa. Aku berdoa minta pimpinan Tuhan dan ketenangan hati untuk ketemu besok. Aku yakin asalkan aku ngga emosi, pasti semuanya akan baik. Mungkin ini kesempatanku untuk berpisah baik-baik dan terutama bagi aku untuk bisa merelakan? Semoga...

Saturday, March 28, 2009

Payung dan Canopy

Aku selalu terjatuh di lubang yang sama berkali-kali. Aku tahu betul konsekuensi menjalani hubungan segi-empat seperti ini, tapi aku selalu saja emosi dan sakit hati.

Sahabatku menganalogikan posisiku seperti sebuah payung. Kalau hujan turun, dicari dan dipegang erat seolah menjadi aset paling berharga pada saat itu. Kalau ngga hujan ya disimpan aja di lemari atau bahkan ditaruh di gudang sampai berdebu.

"Terus aku harus gimana?" tanyaku. "Ya, kalau lu memang puas menjadi payung ya dijalani aja. Konsekuensinya kan udah tau. Tapi kalau mau berevolusi menjadi canopy sebetulnya juga bisa. Itu semua kan pilihan." jawabnya.

Meskipun mungkin menggelikan menganalogikan hubungan cinta dengan payung dan canopy, aku jadi berpikir juga. Apa benar aku mau seterusnya menjadi payung? Apa sih yang aku inginkan?

Aku ingin berevolusi menjadi canopy yang indah dan kuat untuk pasanganku. Aku ingin selalu ada untuk menaunginya, melindunginya dari sinar terik matahari maupun dari hujan. Aku ingin dia bangga terhadapku dan keberadaanku bukanlah aib baginya.

Aku harus bisa menerima untuk sekarang aku memang masih belum mampu melewati lubang itu, mungkin aku harus mencari jalan lain dulu untuk melewatinya. Mungkin nanti kalau aku sudah belajar lebih banyak, aku akan mampu melewatinya tanpa jalan memutar. Tapi aku perlu bangga karena aku sudah berusaha semaksimal mungkin, tanpa penyesalan.

Aku sudah memilih... aku ingin berubah... dari sebuah payung menjadi sebuah canopy yang indah dan kuat.

Friday, March 27, 2009

Tuhan itu baik

Semalam kembali menyambung diskusi dengan si jagungwati *dalam rangka ikut merayakan hari Nyepi, hehe*

Aku sempat surprise dengan salah satu pernyataan bahwa dia percaya Tuhan itu ada, semua diatur oleh Tuhan, dan rencana Tuhan pasti yang terbaik. Ini adalah oknum sama yang 4 tahun yang lalu menolak mentah-mentah dan menganggap Tuhan itu hanya ciptaan manusia. Waktu itu dia percaya semua yang terjadi adalah akibat dari diri manusia sendiri dengan campur tangan alam.

Menurut sahabatku yang sebenarnya ga hobi-hobi banget makan jagung itu, dengan kepercayaan dan kepasrahan itu dia bisa menemukan ketenangan hati. Misalnya suatu saat kita sudah berusaha sekuat tenaga tapi gagal, itu bisa kita interpretasikan bahwa Tuhan berkehendak lain, dan kita bisa punya harapan dengan rencana Tuhan yang pasti baik untuk kita.

Satu lagi diskusi kita adalah tentang doa. Dan kita mendapat kesimpulan bahwa apa yang kita minta akan diberikan. Tapi seringkali kita ga menyadarinya.

Dalam kasusku, aku ingat satu malam, 6 atau 7 tahun yang lalu, dalam rasa desperate berat aku doa kepada Tuhan dan meminta seorang pacar. Aku deskripsikan dengan jelas orang yang aku minta. Aku baru sadar, ternyata doaku itu benar-benar dikabulkan. Lalu kasus kedua, aku selalu merasa ngga puas dengan perpisahan aku & dia, maka doaku adalah aku minta kesempatan untuk mendapat perpisahan yang baik. Aku baru sadar, ternyata sudah beberapa kali Tuhan memberikan kesempatan itu, meskipun akhirnya aku melakukan kesalahan yang sama lagi.

Semakin tambah umur aku semakin tahu: Tuhan itu baik. Apa yang kuminta, dikabulkan. Kalaupun yang sepertinya ngga terkabul, kenyataannya aku selalu mendapat yang lebih baik, jauh lebih baik. Lalu meskipun aku sering bandel, Tuhan selalu memberikan aku kesempatan. Analoginya seperti seorang anak kecil belajar berjalan, meskipun aku jatuh di tempat yang sama, rasanya aku selalu diberi cara untuk bangun dan berjalan lagi, kalaupun jatuh lagi rasanya aku semakin kuat dan bisa bangun lebih cepat, dan akhirnya aku akan bisa berjalan sendiri.

Malam menjelang tidur, jagungwati melongok keluar jendela lalu memanggilku. Kita keluar ke halaman rumah dan kita melihat pemandangan paling indah: suasana malam yang gelap gulita, sunyi senyap, dan langit penuh bintang. Satu persatu bintang jelas tampak berkilau terang malam itu. Aku rasa itu malam paling indah yang pernah aku lihat.

Sekali-kali dalam hidup, sebaiknya setiap orang menjalani paling tidak satu malam Nyepi untuk menikmati alam dan mengingat bahwa Tuhan itu baik.

Thursday, March 26, 2009

Meditation

Hari ini Nyepi. Boleh dikata menjalani Nyepi di Bali itu adalah suatu hal istimewa. Dari 5x menjalani Nyepi, baru kali ini aku betul-betul bisa ikut menjalaninya.

Tadi pagi seperti biasa aku bangun sekitar jam 7. Aku sempat terbangun dengan perasaan sedih mengingat dia dan lagunya Bryan Adams terngiang di telinga, jadinya aku bangun dan menulis lagu itu. Sesudah berkurang rasa sedihku aku cek email sebentar lalu belajar. Tumben, belajar hari ini rasanya lancar banget, selesai satu topik aku main gitar sebentar, lalu lanjut lagi. Sesekali ada pikiran tentang dia, tapi aku konsentrasi belajar dan pikiran itu hilang sendiri. Habis belajar, makan coklat yang enak banget *nyam nyam* terus makan ayam betutu. Sesudah makan aku sempat berdiskusi dengan kepala jagungwati, topik kita kali ini tentang meditasi.

Meskipun rasanya sudah beberapa kali jagungwati menjelaskan tentang konsep meditasi baru kali ini aku benar mengerti *maap ya jagungwati*. Kesimpulan yang aku dapat, Meditasi itu adalah kesadaran diri dengan apa yang sedang dikerjakan dan bisa menikmatinya. Bukan seperti pengertian kebanyakan orang bahwa meditasi itu harus mengurungkan diri di kamar, duduk bersila dan mengucapkan mantra-mantra.

Lalu aku cerita tentang jam belajarku tadi pagi, aku khawatir yang aku lakukan adalah menghindari atau lari dari pikiran-pikiran yang menggangguku. Tapi menurut jagungwati yang aku lakukan tadi sudah termasuk meditasi. Saat aku konsentrasi penuh dengan textbook-ku, menyadari penuh aku sedang belajar dan menikmatinya, itu adalah meditasi. Pikiran lain yang datang lalu menghilang saat aku melanjutkan belajar bukan menghindar tapi itu adalah tanda bahwa aku benar2 larut dalam pelajaranku, buktinya aku masih bisa melanjutkan belajar dengan sepenuhnya, bukan berpura-pura belajar tapi pikiranku masih nyangkut dengan hal lain.

Ternyata meditasi itu susah-susah-gampang. Tapi hasilnya so worth it, dalam kasusku aku bisa belajar dengan baik dan pikiran-pikiran lain tidak menggangguku. Dan kalau kita sudah mengerti konsep yang benar, meditasi itu bisa dilakukan dalam setiap hal yang kita lakukan and we can really enjoy life.

Selanjutnya hariku cukup menyenangkan. Aku sempat lanjut belajar, browsing di internet, membantu jagungwati menyampul buku, menikmati buku "the witch of portobello" di taman karya si jagungwati dan mandi, meskipun tadi pagi aku bertekad ngga mandi sampe sore nanti, tapi hari Nyepi yang panas ini membuatku melanggar tekadku untuk hemat air :)

When you love someone

When you love someone, you'll do anything
You'll do all the crazy things that you can't explain
You'll shoot the moon, put out the sun
When you love someone

You'll deny the truth, believe a lie
There'll be times that you believe you can really fly
But your lonely nights have just begun
When you love someone

When you love someone, you'll feel it deep inside
And nothing else can ever change your mind
When you want someone, when you need someone
When you love someone

When you love someone, you'll sacrifice
You'd give it everything you got, you won't think twice
You'd risk it all, no matter what may come
When you love someone

You'll shoot the moon, put out the sun
When you love someone

Wednesday, March 25, 2009

Love worth fighting

Someone asked me: Is she worth fighting for? It made me think a lot. Tonight I got to the conclussion that she is. Anyone that can make me hurt this much and make me still love her is worth fighting for. But another question should emerge: Does she want to be fought for? If not, whatever I do is in vain.

I think there shouldn’t just be teachings about how to love, but also how to let go. I definitely need that.

Tuesday, March 24, 2009

Menulis itu terapi

Beberapa bulan ini aku sempat mengalami guncangan hidup yang terhebat dalam hidup, so far. Setelah sempat berkompromisasi dengan beberapa, bahkan banyak idealisme hidupku, semuanya hancur dalam satu malam. Mungkin untuk beberapa orang pengalaman yang kualami tampak sangat simple dan biasa, tapi buat saya yang tadinya hidup tenang, damai, berkecukupan, ini luar biasa. Emosi ekstrim dari sedih ke bahagia adalah sesuatu yang baru bagiku.

Ada seorang sahabat yang menganjurkan untuk menulis sebagai terapi. Rasanya cukup masuk akal. So, terciptalah blog saya, Jekiy Blog. Sekedar untuk terapi diri, dan mudah-mudahan berguna juga untuk pembaca.