Friday, May 22, 2009

Sincerity

I just saw a scene from Bruce Almighty where Bruce said a perfect prayer wishing his girlfriend would find someone who truly loves her and sees her as he does. This is actually a prayer I have prayed. But then, could you be as sincere when that someone really exist and it's not you?

It's easier to be "sincere" and have positive wishes for someone you love when both sides are seeming to be "unhappy" after a break-up. It's much different when the other side is happy-lovey-dovey and it started from an act of infidelity.

Your ego starts it's manipulative ideas to make you feel like a victim, betrayed, fooled, stupid, etc.

At first this was what I was feeling. And for me, it isn't an acceptable feeling. I was not taught to be a victim, to be foolish, or act with my emotions. There was a great conflict in me between my ego with my logical thinking vs my heart with my emotions.

Later on, I learned it's natural to have this feeling. However, it shouldn't be a feeling we should hold on to for long. I have learned to overcome the feelings and understood it's not a matter of who's the victim or who's stupid. It's just a process. A process where we learn more about ourselves. It's like a test, where when we can overcome it we pass and the result is know more about ourselves, know how we would react in a certain situation, know what to do next time in a similar situation and in the end become a better person.

Back to the topic tonight.

The past 2 weeks, I just refused to get in contact with her. In my head: I don't give a damn of how she is now. But still every night I do pray for God's kindness to protect her. However, I have limited myself to pray for her happiness. A small piece of me, the egoistic core in my heart, still hopes for her unhappiness and for her to come back to me after all of the unhappiness she will experience.

And so far I thought I had true love. But I refuse to wish for her happiness, because it meant it was with another person. I am quite ashamed to confess this.

This afternoon, I was quite surprised. I had some memories of when we were together, but those memories seemed like a dream, like it never happened before. Maybe it's just a defensive way my mind does to heal. Making me believe that it never happened. But I know it was real, it happened to me. On the contrary it was my dream come true. And if it came true before, I believe it will come true again, with someone else, who will stay with me through the toughest times of life.

We had beautiful memories together. I knew she loved me then. And I truly love her, still. I don't want my love be stained by insincerity. Tonight I will pray and ask God to kindly protect her and wish for her complete happiness with whoever she is with.

*I suddenly felt an urge to text her and tell her of my feelings tonight. I wanted to tell her that I still love her and wish her happiness. But then, a friend of mine did say, that we do not always have to show our love to the person we love, but we can simply wish the best for her and pray for her. In this situation, I think that's the best thing to do.*

Wednesday, May 13, 2009

A new hope

Beberapa hari ini aku mulai merasakan ketenangan dan harapan positif akan esok hari. Entah kenapa. Sejak peristiwa mabok berat malam minggu kemarin. Mungkin dalam keadaan mabuk itu aku bisa mengeluarkan emosiku yang terpendam (menurut Taz dan temen-teman Petto, aku sempat ngoceh-ngoceh).

Tapi sejak itu aku ngga lagi merasa tidak puas dengan hidupku. Aku kembali merunut-runut harapan dan rencanaku untuk besok.

Aku ngga lagi berharap-harap cemas ada sms atau telpon dari dia. Aku masih ingat tentang dia. Masih banyak hal-hal kecil sehari-hari aku temui yang mengingatkan aku akan dia, tapi sudah ngga ada rasa mengganjal atau sakit hati setiap aku ingat dia. Yang ada untuk saat ini adalah kenangan indah waktu kita masih sama-sama dan rasa sayangku untuk dia.

Malah dari obrolan-obrolan sama Petto belakangan aku jadi ingat hal-hal konyol yang pernah aku lakukan dulu sebelum pacaran sama dia. Aku ingat pernah dekat sama seseorang. Dari obrolan-obrolan kita, aku merasa kita banyak kecocokan. Aku merasa tumbuh rasa sayangku. Tapi aku ngga berani mengungkapkan perasaanku. Akhirnya kita masing-masing punya pacar. Aku melepaskan satu kesempatan.

Waktu aku baru habis break up, dia juga baru aja break up. Kita banyak ngobrol-ngobrol lagi. Teman-temanku mendorong supaya untuk aku ungkapin aja perasaanku. Tapi dengan pertimbangan situasi aku dan dia baru break up dan kayaknya dia juga masih sayang sama pacarnya, aku malah mendukung dia untuk balikan sama pacarnya. Bodoh ya? Maka, hilang kesempatan kedua.

Sekarang aku berpikir masih memungkinkan ngga ya? Dia masih dalam suatu relationship. Mungkin aku akan coba untuk menunggu kesempatan ketiga dan menggunakannya baik-baik. Menurut Paulo Coelho, apa yang terjadi 2x pasti terjadi untuk ke 3x nya. Keeping my fingers crossed for a new hope :)

Monday, May 11, 2009

Gemintang

Aku baru dengar lagu ini di radio beberapa hari lalu, dan lagunya nyangkut terus. Waktu aku baca liriknya, aku tersenyum. Inilah rasa sayang yang aku rasakan dan akan aku ingat terus.

Gemintang, awali indahnya cerita
Melantunkan rasa
Nyanyikan, denting nada dan senyuman
Menghadirkan cinta

Resahku menepi
Indahku bersemi
Mengingat utuh bayangmu

Hatiku mengucap kata merindukanmu
Laksana nyata manis nuansa
Dan jika gemintang tiada lagi melagu
Kisahku yang mencinta dirimu
Kan slalu abadi

Rembulan, temani indah malam ini
Menyatukan asa
Lukiskan, dekap hangat yang kau beri
Mengartikan kita

Resahku menepi
Indahku bersemi
Mengingat utuh bayangmu

Hatiku mengucap kata merindukanmu
Laksana nyata manis nuansa
Dan jika gemintang tiada lagi melagu
Kisahku yang mencinta dirimu
Kan slalu abadi

Gemintang, nyanyikan
Rembulan, lukiskan

Hatiku mengucap kata merindukanmu
Laksana nyata manis nuansa
Dan jika gemintang tiada lagi melagu
Kisahku yang mencinta dirimu
Kan slalu abadi

- Gemintang by Andien

Hangover? Ngga lagi deh..

Malam minggu. Big gathering. Seru. Tapi hatiku sepanjang hari gelisah. Masih sedih dengan ucapan goodbye via sms kemarinnya. Xanax 0.25mg membantu mengurangi kekalutan pikiran, tapi ngga bisa mengurangi rasa sedih hati.

Sesudah 2 shot tequila dan 1 flaming bikini aku uda mulai merasa ringan. Aku tau seharusnya sudah cukup. Tapi ada keinginan untuk lose control. Jadi aku terima aja tawaran-tawaran cheers berikutnya.

Setelah 2 flaming bikini, 1 heineken, 4 (ato lebih) shot tequila, alhasil jackpot dengan sukses. Langsung tepar di tempat. Entah berapa lama.

Yang sedikit menghibur ada Taz di sana. Menurut kronologi dari Taz, dia ngeliat aku uda mulai bergelagat aneh. Dia langsung peluk aku. Setelah 2 kali jackpot di dalam, aku diajak keluar sama pacarnya, karena dia ga kuat nopang aku, jackpot lagi di luar terus aku dibawa ke bangku terdekat. Di sana dengan suksesnya aku tepar. Taz sempat nungguin, terus waktu aku mulai ada respon dia cari temen-temenku. Tapi dia yang juga agak high, harus balik masuk supaya ga ikutan jackpot kalo diem aja, akhirnya dia pasrahin ke Petto yang uda datang. Kata Petto dia jagain cukup lama.

Agak malu juga sih, karena seharusnya aku yang nyupirin Petto pulang. Malah aku yang lebih mabok.

Besoknya: hangover beratz. Rasanya kepala berat, perut mual, pusing... Pokoknya ngga lagi deh, mau seberat apa pun masalah yang lagi aku hadapi, ga mau mabok and hangover lagi. Ditambah lagi gara2 itu ga bisa ngeliat drunk dance-nya Taz, hu uh :(

Friday, May 1, 2009

Konflik ego dan hati

Ternyata semuanya itu cuma sandiwara.

Aku yang mengenal baik sifat dia, merasa ragu antara mungkin tidaknya dia akan "berkorban" segitunya. Lalu aku telpon nomor yang kuhafal di luar kepala itu. *maaf ya petto*. Belum selesai dering sambung pertama, sudah terdengar suaranya.

Kutanya kapan marriednya, katanya Juni. Dia lalu minta aku doain supaya semua lancar dan dia ngga salah pilih. Dalam hati aku tertawa sinis.

Setiap malam aku memang mendoakan dia, minta Tuhan berkenan menjaganya. Itu kini menjadi rutinitas malamku sebelum tidur, untuk tidak lupa bersyukur pada Tuhan lalu mengingat keluarga dan sahabat-sahabatku.

Tapi untuk mendoakan kebahagiaan dan kelanggengannya berumah tangga? Rasanya tingkat spiritualku belum setinggi itu. Boleh dikata untuk topik itu, aku apatis, ga perduli, mau dia bahagia, mau dia sengsara, terserah dia. Itu pilihan dia. Bahkan kalau mau jahat, ada sebagian dari egoku yang ngga mau dia bahagia dengan orang lain, tapi pada saat yang sama, hatiku akan sedih kalau tau dia kesusahan.

Konflik antara ego dan hati itu kadang2 lebih seru daripada nonton drama sinetron telenovela, hehe. Ambil lucunya aja deh...