Ternyata semuanya itu cuma sandiwara.
Aku yang mengenal baik sifat dia, merasa ragu antara mungkin tidaknya dia akan "berkorban" segitunya. Lalu aku telpon nomor yang kuhafal di luar kepala itu. *maaf ya petto*. Belum selesai dering sambung pertama, sudah terdengar suaranya.
Kutanya kapan marriednya, katanya Juni. Dia lalu minta aku doain supaya semua lancar dan dia ngga salah pilih. Dalam hati aku tertawa sinis.
Setiap malam aku memang mendoakan dia, minta Tuhan berkenan menjaganya. Itu kini menjadi rutinitas malamku sebelum tidur, untuk tidak lupa bersyukur pada Tuhan lalu mengingat keluarga dan sahabat-sahabatku.
Tapi untuk mendoakan kebahagiaan dan kelanggengannya berumah tangga? Rasanya tingkat spiritualku belum setinggi itu. Boleh dikata untuk topik itu, aku apatis, ga perduli, mau dia bahagia, mau dia sengsara, terserah dia. Itu pilihan dia. Bahkan kalau mau jahat, ada sebagian dari egoku yang ngga mau dia bahagia dengan orang lain, tapi pada saat yang sama, hatiku akan sedih kalau tau dia kesusahan.
Konflik antara ego dan hati itu kadang2 lebih seru daripada nonton drama sinetron telenovela, hehe. Ambil lucunya aja deh...
10 SEC READ The gift of insults
4 years ago

No comments:
Post a Comment